Marah
Kenapa harus marah?
Sebenarnya ngga ada yang harus dipermasalahkan dengan amarah. Amarah bisa keluar kapan saja… Cuma masalahnya adalah, KAPAN dan DIMANA, amarah itu menghambur keluar dari mulut gw yang ga bisa agak susah dikontrol ini.
Sudah hampir 2 minggu belakangan ini, setiap pulang kantor, gw selalu berteriak-teriak di rumah kalau pulang kantor. Adaaaaa aja yang keliatan “jorok” dan tidak rapi di rumah kalo gw pulang.
Kemarin anak gw yang paling kecil, Vanja, komplain ke gw. Dia ngomong gini “Mama, dedek suka deh kalo mama ngga marah-marah aja”. Lalu tau apa yang gw lakukan (sebenarnya gw nyesal juga) gw ngomong gini, “Tauk ah… gelap!” …. ???!?!?!?!?!!!!!??? WTF?! Jawaban yang bukan jawaban untuk seorang Ibu! Gw dah gila kali ya! Setelah itu, malam-malam pas dia tidur gw minta maaf…
so stupid of me!
Bagaimana sih sebenarnya cara yang tepat mengalihkan amarah?! Karena sumbernya saja gw ga bisa beresin… bukan ngga bisa, tapi belum bisa. Alasan-alasan seperti ini,
- Kurang tidur…
- Rumah berantakan, cucian numpuk…
- Pembantu ga punya inisiatif, harus disuruh-suruh…
- Anak-anak yang ga bisa diam….
- Lelah sepulang kerja…
- Pengen melakukan hal yang disuka tapi ga bisa…
- Laper…
- Gerah…
- bla…bla..bla….
Sebenarnya sedikit demi sedikit bisa gw kendalikan. Asal tidak menumpuk semuanya. Akhirnya gw mengalihkan semua amarah gw ke buku sketsa yang penuh dengan gambar2 ga penting!
Oia… selain marah-marah tersebut, ada beberapa hal yang agak menyenangkan hati sebenarnya…
- Sudah ganti HP, dan hp lama dikotakkan.
- Sudah beli testpack, and the result is very very reliefing! Gw ga hamil! HOREEEE!!!
- Sudah dapat hasil Medical Check-up, paru-paru gw masih sehat alias ga gambar asbak dan gw masih “FIT FOR THE JOB”
Ah… agak melegakan. Anyway… marah-marah gw kayanya menghasilkan sesuatu di sini.
Sudah ah… kabur lagiiiiiiiiiiiiii… *ngacir*

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.