header image
 

Samar-samar


artwork by ~kamorek at deviantart

:self evaluation:

Tiap manusia memiliki jalan mereka masing-masing untuk menjalani hidup, begitupun juga cara yang mereka tempuh untuk sampai ke titik tujuan hidup itu sendiri. Akhir-akhir ini, gw banyak berpikir tentang diri gw sendiri dan bagaimana gw mengatur hubungan secara vertikal dan horisontal dengan mahluk lain.

Di umur gw yang belum lagi mencapai setengah atau mungkin sepertiga abad, gw sempat berpikir begini: “Apakah nanti kalau gw mati, gw akan menyusahkan orang lain ya?”
Memang sebenarnya pemikiran ini, kalau kata (sebutlah) beberapa orang yang gw kenal, adalah pemikiran yang bagus. Tapi itu baru sebatas pikir ! Gw sendiri masih belum tahu bagaimana implementasinya, agar nanti, pada saat gw menemui ajal, gw tidak menyusahkan atau katakan lah menjadi beban bagi orang lain. Baik itu orang-orang terdekat gw, maupun orang-orang yang ‘pernah terhubung’ dengan gw.

Dan tidak lepas dari itu, gw berpikir juga seperti ini: “Apakah nanti akan ada yang merasa kehilangan kalau gw mati?” . Atau kata-kata sederhananya, dicintaikah gw? Jujur, gw bukan orang yang sempurna, dan dosa gw masih banyak yang belum termaafkan di luar sana, di hati beberapa manusia. Tapi satu hal yang pasti, gw ingin membereskan banyak hutang budi ke beberapa manusia. Manusia-manusia yang sudah memberikan sedikit ‘kuliah singkat’ ke gw tentang menjalani hidup. Jangan tanyakan siapa, tapi gw memang banyak berhutang budi. Jawaban dari pertanyaan di paragraf ini, tentunya akan menjawab, apakah gw dalam level disenangi, dicintai, dibenci, atau pada level ‘i just dont care about you’  alias EGP!

Apakah mungkin, saat gw bertemu dengan malaikat pencabut nyawa, gw meminta 1 saja kesempatan untuk membahagiakan orang-orang yang gw sayangi?

Apakah mungkin, gw bisa menjawab pertanyaan ‘Yang Di Atas Sana’ tentang berapa banyak hal baik yang sudah gw kerjakan?

Apakah mungkin? Secara memang gw bukan orang yang taat beragama, orang yang ‘jarang’ beribadah?

Gw orang yang suka akan keteraturan, tapi gw bukan orang yang bisa mentaati peraturan. Semua gw olah (kebanyakan) dengan suara hati dan (sedikit saja) logika.

Gw orang yang menghargai hidup, bukan karena gw takut mati, karena kematian bisa saja datang kapanpun. Gw menghargai hidup karena gw masih harus membahagiakan orang-orang yang gw cintai.

Mungkin pemikiran gw hari ini aneh, tapi kalau waktunya ‘datang’ nanti, gw harap orang-orang mau memberikan sedikit kata maaf atas semua yang gw lakukan.

~ by vla on September 19, 2008. Tagged: , , ,

One Response to “Samar-samar”

  1. mari kita berhitung

    detik
    demi detik,

    menit
    demi menit,

    jam
    demi jam,

    hari
    demi hari,

    minggu
    demi minggu,

    bulan
    demi bulan,

    tahun
    demi tahun,

    windu
    demi windu,

    mari kita berhitung,
    tinggal berapa waktu lagi

    NS

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.